Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 November 2025

Perjalanan Waktu Sulap: Mengapa Boneka Ventriloquist Terlihat Menyeramkan?

Kata pengantar

Perjalanan waktu sulap membawa penulis menjumpai banyak pengalaman unik di panggung pelayanan dan seni pertunjukan. Salah satu yang paling berkesan adalah ketika berhadapan dengan seseorang yang secara spontan menunjukkan ketakutan mendalam terhadap boneka ventriloquist—bahkan sebelum pertunjukan dimulai. Reaksi itu bukan sekadar kaget atau tidak nyaman; ada sensasi panik yang nyata, seolah boneka tersebut memancarkan ancaman. Pengalaman semacam ini membuat penulis menyadari bahwa boneka ventriloquist, meskipun diciptakan sebagai media hiburan dan penyampaian pesan, ternyata menyimpan lapisan makna psikologis dan budaya yang kompleks.

Boneka ventriloquist, dengan wajahnya yang khas dan mekanisme geraknya yang unik, sering kali memancing respons emosional ekstrem: sebagian orang tertawa dan menikmati karakternya, sementara sebagian lainnya justru merasakan kegelisahan. Ketegangan inilah yang membuka pintu bagi eksplorasi mendalam mengenai sejarah, psikologi, dan estetika di balik boneka ventriloquist—mengapa sebagian orang menyukainya, dan mengapa sebagian yang lain justru takut.

Penulis memperkenalkan pembaca pada dunia ventriloquisme secara lebih menyeluruh: bagaimana boneka-boneka tersebut diklasifikasikan, mengapa kemiripannya dengan manusia dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, apa kaitannya dengan konsep “uncanny valley,” serta bagaimana pengaruh budaya dan sejarah kuno ikut membentuk persepsi modern terhadap boneka yang “berbicara” ini. Melalui pemahaman tersebut, penulis berharap pembaca dapat melihat bahwa ketakutan bukanlah sesuatu yang memalukan atau irasional, melainkan bagian dari respons alami manusia terhadap representasi yang ambigu.

Dengan membuka tabir psikologi dan sejarah di balik boneka ventriloquist, artikel ini mengajak pembaca untuk memahami fenomena ini secara ilmiah dan manusiawi. Pada akhirnya, boneka ventriloquist adalah wujud seni—alat yang menggabungkan keterampilan vokal, mekanik, dan karakterisasi—dan ketika dipahami dengan baik, ia dapat dinikmati tanpa rasa takut, bahkan menjadi media belajar dan hiburan yang kaya makna.

automatonophobia


Mengapa Boneka Ventriloquist Terlihat Menyeramkan?

Dalam dunia seni pertunjukan, boneka ventriloquist memiliki berbagai sebutan yang menggambarkan jenis, bahan, dan karakteristik wajahnya. Istilah “dummy” adalah yang paling umum, merujuk pada boneka yang digerakkan ventriloquist untuk “berbicara” tanpa terlihat pergerakan bibir. Sebutan lain seperti “hard figure” digunakan untuk boneka keras yang wajahnya terdiri dari mekanisme mekanik—mata yang bisa bergerak, alis yang naik, dan mulut yang membuka. Sebaliknya, “soft figure” adalah boneka berbahan lembut, sering kali mirip boneka tangan yang lebih ramah dan fleksibel. Ada pula boneka professional figure yang dibuat oleh pembuat boneka khusus dengan detail realistik, serta character doll yang menonjolkan kepribadian tertentu, mulai dari anak kecil hingga monster komedi.

Meskipun boneka-boneka ini dibuat untuk hiburan, tidak sedikit orang yang merasa terganggu, gelisah, atau bahkan takut saat melihatnya. Ketakutan ini sering disebut sebagai automatonophobia—ketakutan terhadap objek yang meniru manusia, seperti patung lilin, robot, dan tentu saja, boneka ventriloquist. Rasa takut ini juga berkaitan dengan fenomena psikologis yang lebih luas yaitu “uncanny valley”, sebuah konsep yang diperkenalkan oleh ahli robotika Masahiro Mori pada tahun 1970. Mori menjelaskan bahwa manusia cenderung merasa tidak nyaman ketika melihat objek yang hampir menyerupai manusia tetapi tidak sepenuhnya sempurna; wajah yang terlalu kaku, mata yang tidak berkedip alami, atau ekspresi yang “menggantung” dapat menimbulkan reaksi tak wajar karena otak kita mencoba membandingkan antara “manusia” dan “bukan manusia” secara instan.

Boneka ventriloquist, terutama jenis hard figure, berada tepat di wilayah “lembah aneh” ini. Mata yang berhenti di satu titik terlalu lama, bibir yang bergerak dengan cara yang tidak sepenuhnya sinkron dengan suara, serta ekspresi yang tampak hidup namun mati pada saat bersamaan menciptakan sensasi ambigu. Bagian otak yang menangani deteksi ancaman sosial—khususnya amigdala—merespons ketidaksesuaian ini sebagai sesuatu yang berpotensi berbahaya, meskipun sebenarnya bukan ancaman nyata.

Pengaruh budaya juga memperkuat ketakutan tersebut. Film horror seperti Magic (1978) dan Dead Silence (2007) menempatkan boneka ventriloquist sebagai tokoh berbahaya, menciptakan asosiasi luas antara boneka ini dan hal mistis atau jahat. Narasi budaya ini membentuk kecemasan yang bahkan tidak memerlukan pengalaman buruk pribadi; cukup dengan melihat poster film atau klip singkat, rasa takut itu bisa muncul. Hal ini berbeda dengan penggunaan boneka ventriloquist dalam konteks pertunjukan komedi, misalnya oleh Jeff Dunham atau Terry Fator, yang menghadirkan boneka sebagai karakter humoris dan bersahabat. Namun tetap saja, bagi sebagian orang, kombinasi wajah manusia mini dengan gerakan mekanis terasa cukup untuk memancing ketegangan.

Menariknya, rasa takut terhadap boneka ventriloquist tidak selalu berasal dari bonekanya sendiri. Kadang, justru ketegangan muncul dari konsep bahwa suara manusia bisa “berasal” dari objek mati. Sejak zaman kuno, kemampuan memindahkan suara sering dianggap mistis. Dalam praktik spiritual Yunani kuno, misalnya, “engastrimythos” mengacu pada suara roh yang seolah keluar dari perut seorang medium. Jejak sejarah ini secara tidak langsung berkontribusi pada asosiasi modern antara ventriloquisme dan hal-hal supranatural. Ketika boneka ventriloquist berbicara tanpa terlihat gerakan bibir sang ventriloquist, otak kita menyadari ada “ketidakcocokan” antara sumber suara dan objek yang tampak berbicara—lagi-lagi memicu sinyal kewaspadaan.

Bagi sebagian orang, ketakutan ini berkembang menjadi fobia yang menghambat, terutama ketika muncul gambaran-gambaran boneka secara tiba-tiba dalam media. Fobia ini bisa menimbulkan gejala seperti jantung berdebar, rasa dingin, atau pikiran bencana bahwa boneka itu akan bergerak dengan sendirinya. Untungnya, ketakutan seperti ini dapat diatasi melalui pendekatan psikologis modern. Terapi exposure bertahap, misalnya, terbukti efektif: seseorang dapat mulai dari melihat gambar boneka yang kartun, lalu beralih ke boneka ventriloquist yang lucu, kemudian menonton video pendek, hingga akhirnya melihat boneka asli. Ketika eksposur dilakukan secara konsisten dan terkontrol, otak belajar bahwa objek tersebut bukan ancaman.

Teknik cognitive behavioral therapy (CBT) juga berperan penting dalam menantang pikiran-pikiran yang memperburuk kecemasan. Jika seseorang berpikir “boneka itu akan hidup,” CBT membantu menguji realitas pikiran tersebut dengan bukti yang logis dan aman. Relaksasi, pernapasan dalam, serta grounding dapat digunakan untuk menurunkan intensitas respon fisik. Sementara itu, pendekatan edukatif—memahami bagaimana boneka dibuat, bagaimana mekanisme mulut dan mata bekerja, atau bahkan menyaksikan proses ventriloquist berlatih—dapat mengurangi unsur misteri yang sering memicu ketakutan.

Ketakutan terhadap boneka ventriloquist bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari cara otak manusia bereaksi terhadap hal-hal yang berada di ambang “mirip manusia tapi tidak sepenuhnya.” Dengan pemahaman yang tepat dan pendekatan yang sistematis, ketakutan ini dapat dikelola dan bahkan diatasi. Pada akhirnya, boneka ventriloquist bukanlah makhluk hidup yang mengancam, tetapi alat seni yang menggabungkan kreativitas, teknik vokal, dan keahlian menghidupkan karakter—seni yang sudah berkembang dari teater kuno hingga panggung modern.

Minggu, 27 November 2016

Siapa Raja Sebenarnya di Kartu Remi?

Fakta Sejarah, Mitos, dan Interpretasi

Banyak orang percaya bahwa empat raja (King) dalam kartu remi mewakili tokoh-tokoh sejarah nyata seperti Raja Daud, Julius Caesar, Charlemagne, atau Alexander Agung. Kepercayaan ini populer sejak abad ke-17 dan terus berkembang hingga kini. Namun, secara ilmiah dan berdasarkan sejarah permainan kartu, identifikasi tersebut bukan standar internasional, tetapi berasal dari desain kartu Prancis (French playing cards) abad ke-15–17, terutama dari pabrikan kartu Lyon.

Meskipun begitu, mitos tersebut tetap menarik karena mencerminkan bagaimana masyarakat masa itu memaknai simbol raja melalui figur-figur legendaris.

Berikut penjelasan lengkapnya.

1. King of Spades – Raja Daud?

Dalam tradisi kartu Prancis sekitar abad ke-16, King of Spades sering dikaitkan dengan Raja Daud, raja Israel dalam Alkitab Ibrani. Hubungan ini muncul karena Spade (♠) dianggap mewakili kebijaksanaan, militer, dan kepemimpinan rohani, karakter yang diasosiasikan dengan Daud.

Namun secara historis:

  • Tidak ada bukti resmi bahwa desain awal King of Spades dibuat khusus menggambarkan Raja Daud.

  • Identifikasi ini lebih merupakan tradisi populer yang muncul dalam literatur Eropa awal modern.

Dalam dunia ramalan dan cartomancy, King of Spades sering diartikan sebagai sosok:

  • berwibawa,

  • cerdas,

  • keras kepala,

  • atau hakim/pengacara yang kaku dan tidak mudah dipengaruhi.

Ini mencerminkan gambaran umum raja sebagai otoritas tegas, bukan profil psikologis Raja Daud secara literal.

2. King of Diamonds – Julius Caesar?

King of Diamonds dalam tradisi Prancis terus-menerus dikaitkan dengan Julius Caesar, pemimpin dan konsul Romawi yang terkenal sebagai negarawan strategis.

Alasan asosiasi ini:

  • Suit diamond (♦) melambangkan kekayaan, komersialisme, dan kekuasaan finansial.

  • Caesar terkenal sebagai penguasa yang memperluas kekuasaan Roma, mengelola ekonomi, dan memperkenalkan reformasi administratif.

Ciri visual yang sering disebut:

  • King of Diamonds terlihat seolah “melihat dengan satu mata”,

  • Memegang kapak di tangan kiri,

  • Tangan kanan terangkat seperti memerintah.

Namun secara sejarah:

  • Simbol-simbol tersebut bukan representasi akurat Caesar,

  • Melainkan hasil penyederhanaan artistik seiring penyalinan kartu secara manual selama ratusan tahun.

Dek Prancis mengalami banyak distorsi artistik:

  • tangan terpotong,

  • posisi senjata tidak konsisten,

  • bentuk wajah berubah karena teknik ukir kayu.

Jadi, hubungan langsung dengan Caesar lebih merupakan simbolik daripada faktual.

3. King of Hearts – Charlemagne (bukan Charles VII)

King of Hearts dalam tradisi historis hampir selalu dihubungkan dengan Charlemagne (Karl yang Agung), pendiri Kekaisaran Romawi Suci.

Namun internet sering menyebut Charles VII dari Prancis, terutama karena:

  • Kartu King of Hearts memegang pedang di belakang kepala,

  • Sehingga terlihat seperti “menusuk diri sendiri”.

Inilah asal istilah “Suicide King”.

Secara akademik:

  • Gambar pedang tersebut bukan simbol bunuh diri,

  • Tetapi akibat distorsi visual selama berabad-abad karena cetakan kayu dan penyederhanaan kartu.

Awalnya, pedang itu diarahkan ke samping, tetapi desainnya berubah menjadi seperti menyentuh kepala.

Charlemagne sendiri adalah simbol:

  • hati, keberanian,

  • kasih raja terhadap rakyatnya,

  • kekuatan moral dan spiritual.

Jadi mitos “Charles VII bunuh diri dan membawa pedang ke kepalanya” tidak memiliki dasar sejarah.

4. King of Clubs – Alexander Agung

Hubungan King of Clubs dengan Alexander the Great (Alexander Agung) adalah salah satu yang paling konsisten dalam tradisi Prancis.

Alasannya:

  • Suit club (♣) melambangkan pertumbuhan, tanaman, dan kehidupan—simbol ekspansi.

  • Alexander dikenal sebagai penakluk yang memperluas wilayah hingga India.

  • Gambaran king dengan gada atau tongkat sering dikaitkan dengan ikonografi militer Makedonia.

Namun, gambaran “pemalu” atau “pemurung” adalah penafsiran modern yang tidak memiliki dasar dalam sejarah Alexander sendiri. Secara faktual, ia:

  • karismatik,

  • agresif secara militer,

  • dan dikenal sebagai pemimpin yang sangat percaya diri.

Atribusi psikologis “pemurung” muncul sebagai hasil pembacaan cartomancy, bukan sejarah.

Kesimpulan

  • Identifikasi raja-raja dalam kartu remi dengan tokoh sejarah bukan fakta sejarah,
    tetapi tradisi desain kartu Prancis abad ke-16 yang kemudian berkembang menjadi mitos populer.

  • Tidak ada bukti bahwa para desainer kartu awal bermaksud menciptakan potret akurat para tokoh tersebut.

  • Kartu-kartu itu lebih mewakili ide arketipal raja (kebijaksanaan, kekayaan, keberanian, ekspansi) daripada individu yang spesifik.

Referensi

  1. Benham, W.G. – The Benham Book of Card Games.
    Menjelaskan sejarah visual kartu Prancis dan transformasi simbolik.

  2. Hargrave, Catherine Perry – A History of Playing Cards. Dover Publications.
    Salah satu kajian historis paling lengkap tentang permainan kartu dan ikonografi kerajaan.

  3. The International Playing-Card Society (IPCS)
    Artikel tentang ikonografi King, Queen, dan Jack dalam kartu Prancis.

  4. Museum of Playing Cards – Fournier Museum, Spanyol
    Arsip yang menunjukkan evolusi desain King sejak abad ke-15.

  5. “Standard French Pattern Kings” – World of Playing Cards
    Membahas identifikasi tokoh seperti David, Caesar, Charlemagne, dan Alexander.

Selasa, 08 Maret 2016

http://s3.india.com/wp-content/uploads/2015/03/comm_magci-award-2.gif
Rev Saju Mathew, vicar of Immanuel Mar Thoma Church, Houston, US, receiving the Merlin Award from International Magicians Society CEO Tony Hassini

Houston. Rev. Saju Mathew Receives Doctorate and Prestigious Merlin Award for Magic
n the midst of thunderous applause Rev. Saju Mathew, vicar of Immanuel Mar Thoma church, Houston, has received this year’s prestigious Merlin Award instituted by International Magicians Society for the “Best Gospel Magician’ category from its founder and CEO Tony Hassini.

In the midst of thunderous applause Rev. Saju Mathew, vicar of Immanuel Mar Thoma church, Houston, has received this year’s prestigious Merlin Award instituted by International Magicians Society  for the “Best Gospel Magician’ category from its founder and CEO Tony Hassini.

Dubbed as the Oscar in the field of magic, this is the first time that a clergy receiving this coveted Merlin Award also known as Oscar in the field of magic.

International Magicians Society, with a sizable membership of over 37,000 magicians, was set up in 1968.

Rev. Saju Mathew has also received the certificate for Doctor of Magic at this occasion. He is the third Indian who received doctoral degree in this and the fourth to receive the award after famous magicians P.C Sorcar, Gopinath Muthucad and Samraj.

In this award meeting several dignitaries of church and the Malayalee communities offered congratulatory notes including Vice President Immanuel Mar Thoma Church Jojy John,  Stafford City council member Ken Mathew, Azhchavattom news chief editor Dr. George Kakkanattu, Indian Christian Community Council of Houston secretary Dr. Anna. K. Philip, representing the clergies Rev. Kochukoshy Abraham Vicar of Trinity Mar Thoma Church. Representing the Chachipunna, Pathanapuram, Rev. Saju Achen’s hometown, Mr. Shajimon Idiculla adorned Saju achen with a ponnaada.

Saju achen thanked God for the manifold blessing He has showered in the past in installing Christian values in young children through the medium of magic. He also thanked his family especially wife Bincy and children Joel and Johanna and his parents and dedicated the Merlin Award to them. He also thanked all his well-wishers and said he is dedicating this award to them and Immanuel Mar Thoma Church Family.

Rajan Daniel welcomed the guests and Immanuel Mar Thoma Church Trustee Joy N. Samuel offered vote of Thanks and the award meeting ended with prayer and benediction by Rev. KB Kuruvilla.

This story originally appeared on Voice of Asia.

"Final Day" Paul Daniels

https://i.guim.co.uk/img/media/0cd42a411bae2dc55811185ad64e0dcb1069e836/57_440_4584_2754/master/4584.jpg?w=1920&q=55&auto=format&usm=12&fit=max&s=a7cb33dd042e25f8aa0dfab7fc2bab73
Paul Daniels and his wife Debbie McGee. Photograph: Ken McKay/ITV/Rex/Shutterstock

Paul Daniels telah meninggalkan rumah sakit untuk menghabiskan "hari akhirnya " di rumah setelah didiagnosa menderita kanker otak terminal.

Magician berusia 77 tahun terjatuh di rumahnya dan dibawa ke rumah sakit. Beliau diduga menderita stroke, meskipun ia kemudian didiagnosis dengan tumor otak. Demikian anaknya (Martin Daniels ) memberitahukan keberadaan ayahnya.

Beberapa hari setelah Martin Daniels tiba untuk melihat ayahnya di rumah sakit, ia melihat bagaimana ayahnya mencoba untuk menghibur semua pasien lain yang ada di rumah sakit. Paul Daniels berkeliling tempat tidur menyapa, membuat lelucon. Dia duduk di tempat perawat.

Setelah tiba dirumah, Daniels tahu bahwa dukungan dari para penggemarnya telah memberi mereka "kekuatan yang luar biasa pada apa adalah waktu yang sangat sulit".

Paul Daniels tahu bahwa ada hal-hal yang tidak dapat ia lalui dan hadapi sendiri sekarang. Ia berkata bahwa hidupnya sekarang setiap hari adalah bonus.

Kisah Paul Daniels mengingatkanku pada Pkh 3:1 "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." Ya. Segala sesuatu ada waktunya. Yang kita jalani adalah mengusahakan sebaiknya, bekerja sebaiknya dan melayani sebaiknya seolah-olah esok adalah hari terakhir buat kita.


Source

Update!


Mr Daniels death on March 17, 2016 was announced by his publicist and confirmed by his son Martin, who revealed the star was diagnosed with terminal cancer after a fall at home. The magician's family initially thought the fall was due to a stroke but doctors diagnosed the tumour after a series of tests.


'Love you always, Debbie': Magician Paul Daniels is laid to rest with heartfelt note from his wife and a silver wand on his coffin.
 2nd Source

Rabu, 22 Juli 2015

Ini masih bercerita tentang hipnotis.

Ini masih bercerita tentang sulap, dan hipnotis menurut pak Erich.




Kata sulap, hipnotis, black magic sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Di sebuah TV swasta juga terdapat acara hiburan yang mencari seorang master magician. Pada bagian ini, kami akan mengulas banyak hal tentang sulap, hipnotis, black magic, serta acara tersebut lewat seorang Bpk. Erich Unarto yang dahulu pernah berprofesi sebagai pesulap (magician) dan juru hipnotis yang sekarang ini sudah bertobat.

Perkenalan terhadap dunia sulap dimulai sejak beliau duduk di bangku SMA. Erich belajar dari buku-buku sulap, korespondensi dengan sumber dari luar negeri, serta berguru pada guru sulap di kota Bandung. Keahlian sulapnya membuatnya menerima panggilan sulap untuk acara-acara tertentu di Jakarta. Seorang Erich muda selalu memperdalam ilmu sulapnya, hingga suatu saat dia diajak ke dukun di Bandung, singkat cerita dukun tersebut mengangkat Erich muda sebagai muridnya. Dari dukun tersebut Erich belajar black magic (saat itu disebut white magic karena ia belum mengerti). Banyak ilmu yang dipelajari dari dukun ini, antara lain ilmu pelet, ilmu menundukkan orang. Ilmu yang dipelajari belum dalam tingkat tinggi, namun kuasanya sudah dapat dirasakan. Hal yang paling menarik adalah ketika ilmu tersebut ditujukan kepada seorang dosen killer saat beliau kuliah di FEUI. Ketika sang dosen sudah terserang ilmu yang dilancarkan oleh Erich, maka dosen itu menjadi bersikap ramah kepadanya. Juga saat Erich muda akan dikeroyok oleh beberapa teman kampusnya, selesai membaca mantra-mantra, orang-orang tersebut lalu menjadi tunduk kepada Erich. Erich muda juga belajar hipnotis dari Ketua Himpunan Seniman Sulap Indonesia yang berada di Jakarta. Di Jakarta juga, Erich belajar ilmu sihir dari seseorang, yaitu ilmu untuk mengendalikan atau memerintah orang lain dengan kekuatan pikiran.

Ketika Erich mempelajari semua ilmu sulap, black magic, sihir, hipnotis, dll., ia memang sudah beragama Kristen, namun Kristen yang hanya sekedar agama. Beliau belum mengenal dan memiliki hubungan yang pribadi dengan Yesus. Hingga suatu kali, Erich yang saat itu duduk di tingkat 3 FEUI, dibawakan sebuah kaset kesaksian Jusuf Roni. Ketika mendengarkan kaset tersebut yang ternyata isinya adalah kesaksian Bapak Jusuf Roni yang dipenjarakan karena menjadi orang Kristen. Ia lalu memutuskan untuk tidak mendengarkannya lagi. Namun ada dorongan yang kuat untuk kembali mendengarkan kaset kesaksian itu. Roh Kudus bekerja saat itu. Selesai mendengarkan kesaksian tersebut, Erich hanya bisa menangis dan berpikir mengapa ada orang yang tadinya tidak percaya Yesus lalu bisa menjadi orang percaya yang begitu kuat imannya kepada Yesus, sementara ia sendiri yang sudah di dalam Yesus, malah tidak percaya kepada Yesus dan telah tersesat begitu jauh karena mempelajari black magic dll. Hal itu sungguh menemplak hati Erich. Momen itulah yang menjadi titik tolak pertobatan beliau.

Waktu berselang, hingga bulan April 1979, di Jakarta diadakan KKR besar yang diadakan oleh Full Gospel Bussiness Men’s Fellowship International di Hotel Mandarin yang dilayani oleh Ev. Mel Tari selama 3 hari. Erich datang di hari kedua. Lawatan Tuhan luar biasa saat itu. Erich merasa bahwa kotbah malam itu hanya ditujukan kepadanya saja, karena yang dibahas saat itu adalah perihal kuasa kegelapan. Erich merasa menjadi seorang terdakwa yang sedang dibongkar habis. Malam hari itu, Erich memutuskan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya secara pribadi.
Sejak saat itulah, Tuhan bekerja luar biasa di dalam diri Erich. Beliau mengikuti breakfast meeting setiap hari Selasa pagi di Hotel Indonesia yang diadakan oleh Full Gospel Bussiness Men’s Fellowship Internationa di Jakarta. Ia setia membaca dan mendalami Alkitab, dan kemudian beliau juga dimuridkan secara intensif oleh Moeder Joanna, seorang hamba Tuhan di Jakarta.
Keputusan untuk mengikut Tuhan Yesus harus dibayar mahal. Pak Erich selalu berdoa agar segala kuasa jahat, kutuk yang mengikat dirinya saat masih mendalami black magic dapat dipatahkan di dalam nama Tuhan Yesus. Tantangan dialami pula dari keluarga yang tidak suka dengan keputusannya untuk mengikut Yesus. Namun hal itu tidak menghalangi Erich untuk tetap setia kepada Tuhan Yesus.

Hobi sulap Erich ternyata masih susah ditinggalkan. Dan Erich merasa lama kelamaan hobinya justru menjadi yang utama dibanding Tuhan Yesus. Akhirnya untuk membuktikan bahwa beliau lebih mengasihi Yesus daripada hobi sulapnya, beliau membakar habis semua alat-alat sulapnya. Berat rasanya karena perlengkapan tersebut sudah dikumpulkan sejak lama, dan harganya pun tidak murah. Namun inilah bukti cinta kasih Erich kepada Tuhan Yesus.

• Pandangan terhadap sulap dan hipnotis.
Menurut beliau, definisi sulap sesungguhnya adalah sebuah trik yang berupa kecepatan tangan, teknik alat, permainan pencahayaan dan warna, yang mampu menipu penglihatan orang yang menyaksikannya. Jenisnya sangat banyak, antara lain sulap kecepatan tangan (sleight of hand atau close up), sulap mental (kekuatan pikiran), sulap koin, sulap kartu, sulap balon, sulap bayang-bayang tangan, sulap ventriloquist (memakai boneka yang seolah-olah bisa bicara).

Pada sulap di TV Swasta Nasional, Pak Erich mengamati bahwa tidak banyak peserta yang memakai trik sulap murni, kalaupun ada selalu saja kalah. Karena yang ditampilkan tidak lebih luar biasa daripada yang “lain”. Hal “lain” di sini mengacu pada pertunjukan sulap yang sudah tidak murni lagi, yaitu mencampur trik sulap dengan black magic. Adanya “kuasa lain” pada pertunjukan sulap inilah yang membuat pertunjukan menjadi lebih menarik. Dan sudah tentu para penonton akan sangat terhibur dengan acara seperti ini.

Segmen hipnotis juga ditampilkan pada acara ini. Pak Erich bercerita sesungguhnya hipnotis ini berhubungan dengan kuasa kegelapan. Saat beliau belajar hipnotis hanya membutuhkan waktu 5 menit. Sesudah itu bisa langsung dipraktekkan dan berhasil. Salah satu alasan Pak Erich mengatakan bahwa hipnotis adalah kuasa kegelapan karena pelajaran hipnotis biasanya diberikan oleh lembaga-lembaga kursus atau perorangan bersama-sama ilmu-ilmu yang aneh lainnya, misalnya ilmu tenaga dalam, rejeki, ilmu membuka cakra-cakra yang pada akhirnya seseorang bisa berhubungan dengan dunia roh lain. Pak Erich menyimpulan, "hipnotis" bukan berasal dari Tuhan tapi dari dunia kegelapan!

Satu hal menarik yang perlu dicermati adalah kebanyakan orang secara tidak sadar sudah menundukkan dan membuka diri terhadap seorang juru hipnotis. Dengan berpakaian serba hitam, ia ingin menampilkan sosok yang berwibawa, disegani dan “lebih” dari orang-orang pada umumnya. Sehingga orang yang melihat sudah beranggapan bahwa dirinya tidak ada apa-apanya dibanding orang itu. Hal inilah yang harus dihindari oleh kita sebagai orang Kristen. Jangan membuka celah dengan merasa lebih rendah oleh karena penampilan luar seseorang yang terlihat aneh atau membawa suasana magis, sehingga akhirnya kita menundukkan diri kepada sang juru hipnotis. Seharusnya kita yakin bahwa kita sudah diberi kuasa untuk mengalahkan Iblis, dan kita memiliki kuasa yang lebih besar dari kuasa apapun juga yang ada di dunia ini.
Beliau berpesan, sebagai umat Tuhan kita harus jeli melihat setiap pertunjukan yang ada. Harus diuji dulu kebenarannya dengan firman Tuhan. Dan kita harus memperlengkapi diri dengan firman Tuhan, agar bisa mengerti apa yang benar dan apa yang tidak benar.
Ada segi positif yang bisa diambil dari sulap ini. Saat ini banyak muncul Brotherhood of Gospel Magician atau pemberita-pemberita Injil yang menggunakan sulapan di dalam menyampaikan firman Tuhan. Guru-guru Sekolah Minggu banyak menggunakan sulapan di dalam penyampaian firman Tuhan kepada anak-anak agar lebih mudah menyerap inti sari dari firman Tuhan tersebut. Wow … kalau yang ini pasti menarik!
Nama : Erich Unarto
TTL : Palembang, 27 Maret 1957
Alamat : Kelapa Gading, Jakarta
Pelayanan : Pemimpin Redaksi Manna Sorgawi
Penulis buku rohani
Distributor Cenderamata Kristiani
Pimpinan Museum Benda-Benda Alkitab Yerushalayim


su
mber

Rabu, 11 Februari 2015

SUPERMAN: GAMBAR YESUS

Superman adalah putra terakhir dari planet Krypton yang dikirim ke bumi sebelum planet itu musnah. Ia dibesarkan oleh keluarga Kent sebagai Clark Kent sebelum akhirnya ia tau panggilan hidupnya untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran.
Look, up in the sky,
it’s a bird,
it’s a plane,
it’s…SUPERMAN!
Nggak ada superhero sepopuler Superman, sekalipun dia membawa bendera Amrik, tapi figurnya udah dianggap universal. Superman adalah superhero pertama dalam komik yang punya kekuatan super (superhero pertama yang berkostum adalah The Phantom).
ASALNYA PENJAHAT
Awalnya Jerry Siegel (penulis) dan sobatnya, Joe Shuster (ilustrator), pengen banget bikin komik strip buat di koran or majalah. Tahun 1933 terciptalah tokoh Superman dalam majalah bikinan sendiri berjudul The Reign of Superman, tapi karakternya adalah seorang penjahat super berkepala botak. Gara-gara ceritanya nggak heboh, lalu dibikinlah versi keduanya, kali ini Supermannya ada di sisi baik. Sayang, nggak ada satupun penerbit koran dan majalah yang tertarik memuat komikstrip mereka. Beruntung mereka ketemu sama M.C. Gaines yang merekomendasikan mereka pada D.C. Comics yang menganggap komikstrip mereka ‘colorful… different… and full of action’. Akhirnya Superman pertama muncul sebagai buku komik di buklan Juni 1938 (Action Comics #1) dan nge-‘bum’!
Baru pada April 1940 (Action Comics #23), Superman ketemu lawan seimbangnya, Lex Luthor. Lalu ceritanya berkembang ke sandiwara radio, di situlah cerita tentang kryptonite mulai muncul, juga tokoh Jimmy Olsen (temen kerja Clark Kent). Tahun 1941 Superman mulai difilm-kartunkan.
Tahun 1948 berkembang jadi serial film, dan mulai identik dengan Christopher Reeve ketika dia memerankannya sebagai Superman di layar lebar tahun 1978. Komik Superman selalu laku keras. Tercatat dalam sejarah yang menghebohkan adalah ketika penulis komik John Byrnemenerbitkan “The Death of Superman” di Januari 1993, menimbulkan reaksi besar di masyarakat pecinta komik. Untunglah pada Oktober 1993 Superman bangkit kembali dan makin populer dengan serial tipi Lois and Clark: The New Adventures of Superman, Smallville, video games, buku, mainan, dsb.
SUPERMAN AND RELIGION
Meski datang dari background kristen Protestan, Superman sering digambarkan fleksibel dalam kekristenan. Dalam komik “Superman: For Tomorrow” (Superman #209-215) Superman diceritain ngobrol dengan seorang pastor katholik untuk pengakuan dosa, dan konseling dengan seorang pendeta. Dalam “Superman For All Seasons” Clark remaja bertanya pada pendetanya meminta pertolongan dalam pergumulannya karena bingung apa yang harus dia lakukan dengan segala kekuatan uniknya.
Kalo ditanya, “apakah Superman menyembah Tuhan? Apa yang dia minta kalo dia lagi berdoa?”, kira-kira apa jawabanya ya? Elliot S! Maggin, kepala penulis skrip komik Superman dari DC Comis menjawab, “Saya memberi semua karakter yang saya ciptakan agama mereka masing-masing. Itu bagian dari latar cerita. Itu bagian dari proses untuk mengenali karakter dengan baik sebelum menulis ceritanya. Jimmy Olson seorang Kristen Lutheran, Lois Lane Katholik, Lex Luthor beragama Yahudi. Bruce Wayne seorang Episcopalian. Clark Kent, sama seperti keluarga Kent, adalah seorang Methodist. …Saya pikir Superman terlalu rendah hati untuk meminta sesuatu dalam doa, tapi saya pikir dia berdoa secara spontan, terbiasa dan konstan, kayak kalo kita lagi berkata-kata pada diri sendiri or bersenandung ketika lagi mandi”.

From: Mark Millar, “Superman: Red Son”, published 27 April 2003 in Sunday Times in Scotland (http://toothwatch.tripod.com/redson1.html;

Minggu, 05 Februari 2012

The Great Magician


Hmm... Lama juga gak sempet update. Untuk para pengunjung blogku, mohon dimaafkan. Akhir-akhir ini memang lagi sibuk dengan show dan ngajar. Bari show di hotel, gereja, rumah, ampe ngajar di sekolah. Life must go on...Btw, aku barusan aja nonton film The Great Magician. Film ini menghibur dan menginsipirasiku.

The Great Magician berkisahkan seputar kondisi China di tahun 1916. Jenderal Yuan Shi-kai baru saja meninggal dunia dan pihak Jepang mulai mengincar negara China untuk diinvasi. Film ini menunjukkan bagaimana penonton saat itu sangat terkesima dengan gambar bergerak monochrome saat itu. Tipu daya politik yang digunakan untuk menipu massa di Cina pada saat itu disatukan dengan silat dan sulap.

 

Seorang ahli sulap yang penuh misterius bernama Zhang Xian menjadi perhatian seorang tuan tanah setempat bernama Lei Daniu. Lei berharap bisa menggunakan keterampilan Zhang untuk menarik perhatian Liu Yin.
Liu Yin adalah seorang wanita yang ingin dijadikan sebagai istri ketujuh Lei Daniu. Tanpa diketahui lei, ternyata Zhang adalah tunangan Liu yang memang tengah menanti-nanti pertolongan Zhang untuk menyelamatkannya.

Demi menyelamatkan Liu Yin, Zhang dan Lei bersatu. Bekerja sama melawan para tentara Jepang. Klimaksnya seperti yang selalu si suguhkan film yang berkaitan dengan sulap. Film ini menampilkan kisah akhir yang mengejutkan. Bagaikan akhir dari prestige dari seorang pesulap namun tanpa visual efek canggih.


Film The Great Magician mengingatkanku pada film The Prestige dari Christopher Nolan. Film ini disutradarai Derek Yee yang sekaligus juga penulis naskahnya. Film yang didistribusikan Emperor Motion Pictures ini dibintangi Tony Leung (Zhang Xian), Lau Ching-wan (Lei Daniu), Zhou Xun (Liu Yin), Yan Ni, Paul Chun dan Alex Fong.

Trik-trik yang dimainkan Tony Leung di film ini adalah berjenis classic magic dengan setting panggung indoor. Lihat saja kotak peralatan sulapnya semua berisi gimmick wajib para pesulap seperti vanishing cane, thumb tip, fire ball, stiff rope, multiplying ball bahkan hingga kartu Bicycle Bee juga ada.




Sebagai seorang magician, filim ini layak di tonton para pecinta sulap di dunia. sangat menginspirasiku. Contohnya ketika Tony Leung memainkan fire ball dengan sempurna, ia mengkombinasikannya dengan cara yang sama dengan Brass Cubio trick dan yang paling mengenankan adalah fire ball yang dimainkan dengan cara yang sama dengan dancing silk.

Udah atau belum nonton?

Senin, 06 Juni 2011

Opini vs Argumentasi

Hingga saat ini, masih saja ada yang berpikir dan mempunyai pandangan tentang sulap yang keliru. Mereka berpikir, sulap sama dengan sihir. Mempelajarinya membutuhkan mantra dan bantuan jin. Bukan hanya dari kaum Kedar yang berbicara bengitu tapi ada juga orang yang percaya Tuhan Yesus berkata seperti itu.

Belum lagi jika berkaitan dengan Hypnosis. Sebagian besar orang yang kutemui mengatakan bahwa hypnosis itu adalah perbuatan sihir, hypnosis itu adalah tindakan kejahatan, bahkan ada yang bilang kalau hypnosis itu menduakan Tuhan... Astagafirulah? Sampe segitunya? (T-T)

Penduduk Indonesia yang latar belakangnya mempunyai keterkaitan dunia mistis ini sama saja dengan penduduk yang mempunyai latar belakang yang sama. Baik itu di dunia eropa, afrika ampe asia, pasti ada aja yang jaman dulunya berhubungan dengan dunia mistis. Dari Merlin ampe dukun tiban, semua daerah pasti ada.

Merlin reciting his poems, as illustrated in a French book from the 13th century (pict from wikipedia).  

Keberadaan paranormal bin dukun dan sejenisnya, ditambah gambar, litertur, audio hingga video yang menggambarkan sebuah kebenaran yang tidak benar. Kesalahan yang diakibatkan oleh kekurangan pengetahuan itulah yang membuat sebuah pemahaman yang salah didunia sulap.

Beberapa waktu lalu, saya baru mengetahui bahwa jaman dahulu ventriloquist telah dipakai oleh dukun2. Motifnya apa? Ya, mereka membuat sebuah efek dimana mereka tampak dapat berbicara dengan dunia orang mati hingga pada benda mati seperti patung batu.

Sekarang, ventriloquist dipakai untuk dunia entertain. Jika ventriloquist di anggap sebuah sihir maka opini itu salah. Walaupun seseorang tampak dapat berbicara dengan benda mati, itu bukanlah sihir. Sedih rasanya jika saya masih melihat ada orang beranggapan boneka saya benar2 bisa berbicara... Sekali lagi, kekurangan pengetahuan akan membuat kebodohan. Siapapun Anda, pasti tidak mau disebut bodoh bukan? Oleh sebab itu, belajarlah. Tambah wawasan dan pengetahuan...

Sepertihalnya pembahasan saya di awal, ketidaktahuan hanya membuat orang yang tidak tahu merasa tahu. Ini perbuatan yang tidak bijak. Berdoalah pada Tuhan suber segala kebijaksanaan, dan ora et labora, bukan hanya berdoa, kembangkan diri sendiri juga penting...

Jangan salah opini,
Nanti salah arumentasi...

Maju terus dalam Tuhan...!

Minggu, 13 Februari 2011

Rare Card Back

A promotional Ace of Spades for Bicycles 808s.

The original Aviator box depicted Charles Lindbergh’s Spirit of St. Louis; the modern box features a jet.

A sampling of decorative Aces. Left to right: A Squeezer from the New York Consolidated Card Co.; Ace from a deck of Recruits from the Russell Playing Card Co. (not Russell & Morgan); the “Triton” Ace from NYCC.






A sampling of various Bee backs. The blue card with the two large bees in the center is exceptionally rare; this example comes from the Steve Forte collection.

A collection of Bee cards. The bike-riding King holding the Ace (upper left) is a counter used in whist. Note that some Bee designs have white borders. The Joker showing the “Squeezers” image is much older than it looks.

A color Bicycle Joker.





These 45 backs represent just over half of the designs released by the US Playing Card Co. in their Bicycle line.

A diagram of the old factory floor of the USPCC plant, showing the various processes cards went through in their manufacture.

When Bicycle sells decks of seconds, they are clearly marked as such.

Squeezer boxes bright.jpg
A selection of Squezers packaging.





A sampling of various Tally-Ho backs.

A montage created fror the back cover of an issue of Clear the Decks, the publication of the 52 + Joker card collectors association.

The four cards in the extremely rare “war series” from 1918: Big Gun, Dreadnaught, Flying Ace, and Invincible.


Images and illustrations provided by: 52 + Joker, Leo Behnke, Steve Bowling, Tom & Judy Dawson, Jason England, Steve Forte, Joseph Pierson, and US Playing Card Company. 


Source: www.magicmagazine.com


. 

Kamis, 27 Januari 2011

Cris Tang, Multi Talented Magician from Hong Kong.

Several years ago, I saw a gospel magic show at internet. I forgot what video. When I looking for that magician who perform that's show. I found at Facebook. His name is Cris Tang.


Cris have many years of experience for his magic shows, often involved in performing arts and education classes, including the birthday show (magic, balloon twisting and acrobatics), variety shows, children's variety show and children's theater, etc. 


And this is my short interview with Cris Tang. A professional magician from Hongkong.
(Me  and  CT: Cris Tang):


Me: Hi Cris... Your name is Cris Tang? Its you real name or your stage name?


CT: That isn't my full name. Cris is my nick name.


Me: When is your born, where and who is your family (i mean, are you ordinary family, busy family, Christian or non?


CT: 1988, HK, ordinary family and non Christian


Me: Wow... its only you who Christian? what about your brother or sister?


CT: no brother or sister~ only me.


Me: Why you like magic? Who teach you?


CT: Because I love the feeling of free. A business magician.


Me: What is your first trick and your first show?


CT: Twisting the Aces, my first show is in central.


Me: "Twisting the Aces" Wow? your show at central? What event?


CT: That is a funtion that More than hundred performers walk arround from Central to Causeway Bay. I was a clown in that funtion.


Me: Can we a believers using magic in church? And why?


CT: Sure, we can. Because our magic isn't come from Devil. And our purpose is sending god's message through magic.


Me: I ask that because until now, I still can find a peoples who dint like magic because they think magic (illusion) are same with magic (paranormal). What about your country?


CT: Some of HK people still have the same thinking. I just think... We aren't Pharisee. I should stop the old school thinking.


Me: What is you opinion about magic with Christianity? Is that magic are biblical?


CT: 70% magic, 30% message in a gospel magic. Because our mission is for build up the interest of spectators. Then, we can pass the mission to clergyman. People couldn't believe the salvation only through the magic tricks.


Cris Tang, Multi Talent Magician from Hong Kong.
Me:  I know people couldn't believe the salvation only through the magic tricks. But which trick that's you use to explain God purpose to save us and to pure our sin with illustration? And how big is your spectator's interest about what is your illustration ?


CT:  Floating table (dream), custome change (salvation), Silk into Mirror.( Devil eat our souls). I haven't count the number. Arround 10 - 20? may be. I am not sure. 
I love sharing.


Me: With magic gospel, we can communicate the message of God to th other nations and other language...


CT:  I just can say...God lets me to return through magic. 


Me: OK, Thank you Cris for your sharing...


CT: Nice to meet youNice to meet you. ^^


Me: Nice to meet you too. (^-^)  God bless you bro.


Want to know more about Cris Tang?
Just add his facebook at:http://www.facebook.com/cris.tang
or find more information at: http://magiciancris.wordpress.com/


You want to be the one who have multi-talented too ?
Ask God....!

Kamis, 20 Januari 2011

Lima Kesalahan Terbesar Pesulap Newbie

Mengapa ada beberapa masyarakat umum mengatakan bahwa mereka membenci sulap? Mungkin karena pengetahuan kitab suci yang benar namun pemahaman sulap yang salah. Atau mungkin karena mereka telah melihat pesulap muda atau pesulap yang baru belajar yang arogan, sombong dan tidak punya sopan santun.
Berikut lima kesalahan terbesar yang dibuat oleh pesulap pemula. Dan sayangnya, bukan cuma pesulap baru, beberapa kesalahan ini juga ternyata terlihat dari show beberapa pesulap profesional.
Jika Anda seorang pesulap, hati-hati dengan "perangkap" ini.



1. Angkuh
Tidak ada satupun orang yang suka penghibur atau pesulap yang menunjukkan bahwa pesulap lebih pintar dari orang lain. Sulap bukan merupakan kesempatan bagi seorang pesulap untuk memamerkan atau menunjukkan seberapa pintar atau cerdas dia atau tricknya.
Pesulap yang memperlihatkan triknya dan menunjukkan wajah kepuasan karena tak satupun penonton yang bisa melakukannya. Itu berarti pesulap itu sombong. Rommy Rafael akan mengatakan "So? What magic?" dalam acara The Master. Artinya, pesulap itu hanya menunjukkan bahwa dia bisa, dan penonton tidak bisa. Jauhkanlah sikap seperti ini.



2. Memalukan !
Ketika penonton atau asisten datang untuk membantu, mereka akan keluar dari tempat duduk mereka. maju ke panggung dan bersiap jadi "korban". Tapi bukan hanya memakai asisten atau penonton begitu saja. Adalah hal yang  penting untuk tidak memakai lelucon yang menyerang etnis, fisik, atau keyakinan iman, atau bahkan meremehkan dan penonton yang malu saat di atas panggung.

Jauhkanlah bertidak bodoh di panggung. Karena tindakan itu membuat Anda seperti orang dungu yang sedang melawak. Penonton akan lupa dengan trick Anda hingga akhir show.  Mereka akan pulang dengan berkata,'Ha ha ha ha... bego banget tu pelawak...."


Mau?




3. TIdak siap Tampil
Sulap tidak hanya mengunjungi toko sulap, membeli satu trik atau dua alat sulap, mengeluarkan dari kotaknya, membaca petunjuk dan kemudian mempelajari tricknya. Tidak hanya sampai disitu.



Menghibur dengan sulap membutuhkan waktu untuk mengembangkan triknya, mempraktekkannya, dan membuat rutin  yang menarik, dramatis atau lucu. Lakukan apa pun yang terbaik untuk untuk mempertunjukkan suatu hiburan yang menarik. Ingat Latihan yang sempurna membuat pertunjukan yang sempurna juga. 


Jika tidak siap tampil. Saran saya: JANGAN TAMPIL!




4. Tidak Sistematis
Trik secara berurutan harus bervariasi dan sistematis. Satu trik kartu dimana penonton memilih kartu dan pesulap menemukannya itu mungkin menghibur, tapi lima trik seperti berturut-turut mungkin terlalu banyak. Pilihlah satu trick dengan sistematis yang mengagumkan daripada sepuluh trick yang membosankan.



Jika Anda harus mempertunjukkan trick lebih dari satu maka lekukan efek transformasi atau perpindahan  trick satu ke trick lainnya. Misalnya trick kartu kemudian memainkan trick bola lalu trick sapu tangan dan di akhiri dengan tongkat . Sulaplah kartu berubah menjadi bola, kemudian transformasikanlah bola menjadi sapu tangan dan tentu saja trick silk to wand pada akhirnya. Mencapurkan beberapa trick dengan sistematis dapat membuat satu pertunjukkan yang indah. 




5. Mengenakan Kostum Karakter Banyak pesulap baru mungkin berpikir bahwa mereka wajib mengenakan kostum badut, penyihir dengan topi runcingnya atau memakai kostum seba hitam Semuanya itu benar. Benar-benar salah maksudnya. Ya, salah jika seorang pesulap terlalu pemusingkan sebuah kostum yang terkadang tidak cocok dengan trick yang dmainkannya.

Misalnya, seorang pesulap memakai kostum badut. kemudia dia memakai trick extreme dalam permainanya. Tindakan ini membuat penonton (khususnya anak-anak) akan menjadi fobia dengan badut. Nggak nyambungkan?
Pada gais besarnya, sulap yang baik adalah untuk mempersiapkan dan menunjukkan sulap yang sempurna dan menghibur itu labih baik daripada kostum yang tidak sesuai. Kostum bukanlah satu aksesoris yang mutlak. Membangun karakter tidaklah harus dari kostum.



Menghibur -terlebih lagi, memakai gospel magic- dengan sulap itu merupakan sebuah show yang membuat orang senang, tertawa, terhibur dan bisa mendapat satu pelajaran tanpa merasa digurui.