Tampilkan postingan dengan label The Prestige. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Prestige. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juli 2015

Deddy Corbuzier (Katanya) Berhenti Jadi Pesulap


Dedy bukan Gospel Magician, bahkan dia tidak pernah terlihat berterus terang mengenai kepercayaannya. Hidupnya hanya seputar magic...

Namun diusianya yang sedikit lebih muda dari saya, ternyata ia telah jenuh dengan stigma yang ada. Sekarang, ia menyatakan diri untuk mudur dari dunia sulap. Katanya,"Menjadi seorang pesulap sama sekali tidak mudah. Profesi itu membutuhkan konsentrasi dan dedikasi. Saya harus berlatih, setiap hari. Bahkan, terkadang saya sampai berlatih seharian hanya demi satu trik. Semua ini sangat memakan waktu karena semua detailnya harus diperhitungkan.
Di umur saya sekarang, saya memilih untuk menghabiskan waktu bersama putra saya. Dia adalah keajaiban yang sesungguhnya, dia jugalah yang berhak akan waktu saya, lebih dari karya-karya saya, dan saya mencintai dirinya lebih dari apapun," Minggu (19/7/2015).

Benarkah Deddy benar-benar melepas sulapnya? Tidak! Deddy, meski kini tak lagi menjadi seorang pesulap, sulap masih akan tetap menjadi bagian dari dirinya. Namun kedepannya, ia hanya akan melakukan itu untuk bersenang-senang saja, bukan sebagai karir.

Saya sendiri, sulap sejak lama bukan menjadi karir saya, tetapi saya melakukannya lebih dari hanya bersenang-senang. Saya melakukannya untuk Tuhan.

Apakah Deddy masih ingat dan percaya Tuhan?

Minggu, 05 Februari 2012

The Great Magician


Hmm... Lama juga gak sempet update. Untuk para pengunjung blogku, mohon dimaafkan. Akhir-akhir ini memang lagi sibuk dengan show dan ngajar. Bari show di hotel, gereja, rumah, ampe ngajar di sekolah. Life must go on...Btw, aku barusan aja nonton film The Great Magician. Film ini menghibur dan menginsipirasiku.

The Great Magician berkisahkan seputar kondisi China di tahun 1916. Jenderal Yuan Shi-kai baru saja meninggal dunia dan pihak Jepang mulai mengincar negara China untuk diinvasi. Film ini menunjukkan bagaimana penonton saat itu sangat terkesima dengan gambar bergerak monochrome saat itu. Tipu daya politik yang digunakan untuk menipu massa di Cina pada saat itu disatukan dengan silat dan sulap.

 

Seorang ahli sulap yang penuh misterius bernama Zhang Xian menjadi perhatian seorang tuan tanah setempat bernama Lei Daniu. Lei berharap bisa menggunakan keterampilan Zhang untuk menarik perhatian Liu Yin.
Liu Yin adalah seorang wanita yang ingin dijadikan sebagai istri ketujuh Lei Daniu. Tanpa diketahui lei, ternyata Zhang adalah tunangan Liu yang memang tengah menanti-nanti pertolongan Zhang untuk menyelamatkannya.

Demi menyelamatkan Liu Yin, Zhang dan Lei bersatu. Bekerja sama melawan para tentara Jepang. Klimaksnya seperti yang selalu si suguhkan film yang berkaitan dengan sulap. Film ini menampilkan kisah akhir yang mengejutkan. Bagaikan akhir dari prestige dari seorang pesulap namun tanpa visual efek canggih.


Film The Great Magician mengingatkanku pada film The Prestige dari Christopher Nolan. Film ini disutradarai Derek Yee yang sekaligus juga penulis naskahnya. Film yang didistribusikan Emperor Motion Pictures ini dibintangi Tony Leung (Zhang Xian), Lau Ching-wan (Lei Daniu), Zhou Xun (Liu Yin), Yan Ni, Paul Chun dan Alex Fong.

Trik-trik yang dimainkan Tony Leung di film ini adalah berjenis classic magic dengan setting panggung indoor. Lihat saja kotak peralatan sulapnya semua berisi gimmick wajib para pesulap seperti vanishing cane, thumb tip, fire ball, stiff rope, multiplying ball bahkan hingga kartu Bicycle Bee juga ada.




Sebagai seorang magician, filim ini layak di tonton para pecinta sulap di dunia. sangat menginspirasiku. Contohnya ketika Tony Leung memainkan fire ball dengan sempurna, ia mengkombinasikannya dengan cara yang sama dengan Brass Cubio trick dan yang paling mengenankan adalah fire ball yang dimainkan dengan cara yang sama dengan dancing silk.

Udah atau belum nonton?

Senin, 20 September 2010

Are you watching closely?

Every great magic trick consists of three parts or acts.
The first part is called "The Pledge". The magician shows you something ordinary: a deck of cards, a bird or a man. He shows you this object. Perhaps he asks you to inspect it to see if it is indeed real, unaltered, normal. But of course... it probably isn't.
The second act is called "The Turn". The magician takes the ordinary something and makes it do something extraordinary. Now you're looking for the secret... but you won't find it, because of course you're not really looking. You don't really want to know. You want to be fooled.
But you wouldn't clap yet. Because making something disappear isn't enough; you have to bring it back. That's why every magic trick has a third act, the hardest part, the part we call "The Prestige".
Itulah penggalan kalimat di film fave guw banget geto loh... "The Prestige"



 "The Prestige" dalam film dan dunia sulap merupakan kebanggan bagi pesulap itu sendiri. Tapi bagaimana dengan kehidupan nyata dalam pelayanan? Bukankah sebuah kebanggaan dan tepuk tangan sorak sorai malaikat di Sorga yang menjadi "The Prestige" dalam dunia penginjilan.

Menjadi sebuah kebanggaan jika kita -sebagai Gospel Magician- mendapatkan The Prestige setelah usai perform, namun, terlebih lagi, Injil yang diberitakan menjadi menu paling utama sehingga seribu malaikat di Surga bertepuk tangan untuk satu jiwa yang dimenangkan.

Kapan terakhir kalinya Anda merasakan "The Prestige" dalam pelayanan penginjilanmu?

Are you watching closely? Di dunia ini masih banyak jiwa yang harus dimenangkan.